www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Cerpen: Dosa: “Dia Ingin Bantai Kita"

Posted by On 2:09 PM

Cerpen: Dosa: “Dia Ingin Bantai Kita"

cerpen

Cerpen: Dosa: “Dia Ingin Bantai Kita"

Aku bertanya apa yang terjadi. Ayah menyuruhku diam. Tangannya di pundakku, dingin dan bergetar. Ada yang merayap di kaki kiriku. Aku merabanya.

Cerpen: Dosa: “Dia Ingin Bantai Kitabanjarmasin post groupILUSTRASI oleh Riza

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ibu menjerit. Ayah sontak berdiri. Aku limbung. Kantukku mendadak lenyap. Sebelum aku mengetahui apa yang terjadi, aku telah dibawa berlari oleh ibu menembus gelap.

Mataku terasa buta. Malam hening. Ibu menangis, menabrak pohon pisang. Aku menangis. Di belakang, terdengar teriakan ayah, meminta kami berlari lebih kencang.

Dekat sungai, di balik bat u, kami meringkuk ketakutan. Air sungai menjilat kakiku. Dingin menjalar ke sekujur tubuhku. Tangan ibu yang merangkulku bergetar. Kepalanya gelisah. Ayah datang. Kelewang di tangan kanannya. Senter di tangan lainnya.

“Apa salah kita?” Ibu terisak. Ayah mendekap kami. “Dia ingin bantai kita.” Gigi ayah gemeretak.
Aku menangis. Ayah menenangkan. Ibu memelukku. Kami sama-sama ketakutan.

Aku bertanya apa yang terjadi. Ayah menyuruhku diam. Tangannya di pundakku, dingin dan bergetar. Ada yang merayap di kaki kiriku. Aku merabanya. Pegangan ayah mengeras. Aku diam. Dadaku mau meledak. Aku menggigit bibir. Air mataku terasa dingin, asin.

Suara katak sahut-sahutan. Di dekatku, ada suara gemerisik. Ayah membalik badan, menatap ke arah suara. Tidak ada apa-apa. Dari rumah kami, anjing menggonggong keras. Ayam berkokok paksa. Langkah kaki sapi berlari tidak karuan. Itu sapi kami. Ayah diam.

Aku bertanya lagi. Siapa yang mengejar kami. Tidak ada jawaban . Ibu merangkulku sambil menggigil. Tidak jauh dari kami, ada suara orang berteriak. Suara yang sepertinya ku kenal. Aku hanya diam. Suara itu terdengar penuh amarah. Teriakan itu memanggil ayah, menyebut sundal dan anjing.

Tengah malam, suara itu lenyap. Kami pelan-pelan bangun, berjalan dalam hening menembus gelap. Kakiku terseok. Ayah menggendongku. Ayah mempercepat langkah. Kami melewati tiga sungai. Ayah mengumpat-umpat. Ibu mengomel. Aku bertanya lagi, ayah menjawab dengan mengumpat, ibu jawab dengan mengomel.

Kami berhenti di sebuah rumah tengah sawah. Ayah tetap memegang kelewang. Ibu bersandar di salah satu tiang, masih mengomel. Aku bertanya lagi, ibu menjawab dengan cerita. Ia menangis.

“Dia hidup karena kita. Rumah yang dia tinggali adalah rumah kita. Tanah itu tanah milik kita. Hidupnya milik kita. Balasannya, ia menyerang kita.

“Harusnya kita sudah tidur nyenyak, mimpi indah. Dia datang, menusuk dinding rumah kita dengan tombak.
“S etiap malam dia datang minta makan, kita jamu dengan makanan paling enak. Dia nikah, kita mengurus semua sampai ia bisa menikmati hidupnya. Kita biarkan ia tidur bangun di rumah kita. Balasannya, ia datang mau bunuh kita.

“Sewaktu ia hampir mati sakit, kita menolongnya, kita bawa dia ke dukun. Sembuhnya dari itu, dia menusukkan tombaknya di dinding rumah kita. Dia kejar-kejar kita. Salah kita tidak ada. Binatang dia, tidak tahu diuntung.”

Tangis ibu tak terkendalikan. Bahunya berguncang. Ingusnya keluar. Ayah menyumpah-nyumpah geram. Aku meminta ayah bercerita. Ayah membentakku. Aku menangis. Ayah menyumpah-nyumpah lagi.

“Pokoknya, besok pagi aku akan datang mencarinya. Malam ini, bisa saja aku mematikannya, tapi aku ingat kalian. Besok pagi, aku akan menggorok lehernya. Dia sungguh tidak bisa diuntung. Kita perlakukan dia dengan begitu baik, dia perlakukan kita seperti musuhnya. Anjing! Setan!

Itulah penggalan cerpen berjudul Dosa kar ya Arianto Adipurwanto. Selengkapnya simak di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (17/12/2017).

Editor: Idda Royani Sumber: Banjarmasin Post Ikuti kami di Terkuak! Bukan Karena Mobil, Surat Terakhir SPG Cantik yang Dimutilasi Suami Jadi Jawaban Sumber: Google News | Liputan 24 Banjarmasin

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »